WebGIS dan Peta Tematik untuk Pemda: Belajar dari POMPy BATARA Barito Utara

Data daerah tersebar di banyak dinas dan format. Peta tematik menyatukannya dalam satu tampilan yang bisa dibaca pimpinan dan masyarakat. Ini langkahnya, dengan contoh nyata dari Barito Utara.

WebGIS dan Peta Tematik untuk Pemda: Belajar dari POMPy BATARA Barito Utara

WebGIS adalah sistem informasi geografis yang diakses lewat browser. Peta tematik adalah peta yang menampilkan satu tema data di atas wilayah, misalnya sebaran sekolah, fasilitas kesehatan, atau proyek pembangunan. Bagi pemda, keduanya berguna karena hampir semua keputusan pembangunan menyangkut tempat.

Masalah: data ada, tetapi tersebar

Setiap dinas biasanya menyimpan datanya sendiri dalam spreadsheet, aplikasi sektoral, atau laporan PDF. Ketika pimpinan butuh gambaran wilayah, tim harus mengumpulkan dan menggabungkannya manual. Hasilnya lambat dan sering berbeda antar sumber.

Contoh: POMPy BATARA di Barito Utara

POMPy BATARA adalah portal peta tematik (One Map) dan dashboard daerah milik Kabupaten Barito Utara. Portal ini mengintegrasikan data spasial dan tematik dari berbagai perangkat daerah ke dalam satu tampilan, sehingga informasi pembangunan lebih mudah dibuka dan dibaca dalam konteks wilayah. Sentra Technology terlibat dalam pengembangannya bersama Diskominfosandi Kabupaten Barito Utara, dan Kabupaten Barito Utara meraih Digital Innovation Award 2026 melalui portal ini, sebagaimana diberitakan ANTARA. Portalnya dapat dilihat di pompy.baritoutarakab.go.id.

Lapisan data yang umum

  • Batas wilayah kecamatan dan desa sebagai dasar semua lapisan lain.
  • Fasilitas pendidikan dan kesehatan beserta lokasinya.
  • Infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan jaringan.
  • Proyek pembangunan dan statusnya.
  • Penggunaan lahan dan rencana tata ruang.
  • Data sosial yang sudah diagregasi per wilayah.

Langkah membangun

  1. Mulai dari data yang sudah ada di perangkat daerah, jangan menunggu data baru.
  2. Tetapkan pemilik tiap lapisan: siapa yang memperbarui, seberapa sering, dan dari sumber apa.
  3. Samakan standar: sistem koordinat, kode wilayah, dan metadata singkat tiap lapisan.
  4. Satukan bertahap: tampilkan 3 sampai 5 lapisan prioritas lebih dulu, lalu tambah.
  5. Rancang dua tampilan: dashboard ringkas untuk pimpinan dan peta publik yang mudah dibaca warga.
  6. Atur akses: data sensitif atau belum final tidak otomatis menjadi publik.
  7. Siapkan perawatan: jadwal pembaruan data, cadangan, dan tim yang bertanggung jawab.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Peta bagus tetapi datanya tidak diperbarui, sehingga cepat ditinggalkan.
  • Terlalu banyak lapisan sejak awal sampai pengguna bingung.
  • Tidak ada pemilik data, sehingga tiap dinas saling menunggu.
  • Dibangun hanya untuk tim teknis, bukan untuk pimpinan dan publik.

Hubungan dengan SPBE dan Satu Data

Peta tematik memperlihatkan data yang sudah rapi. Karena itu ia biasanya muncul sebagai hasil dari upaya menyatukan data di bawah SPBE dan Satu Data Daerah, bukan sebagai pengganti upaya itu.

Lihat dokumentasi proyek POMPy BATARA, layanan Data & Analytics, dan solusi pemerintahan dari Sentra.

Punya kondisi serupa di organisasi Anda?

Ceritakan prosesnya. Kami bantu memetakan pendekatan yang paling proporsional.

Diskusi via WhatsApp →
Chat WhatsApp